Senin, 30 Maret 2015

Melihat Sisi Positif Ichiro - Andi Wenas bukan hanya lihat kesalahannya !!

Andi Wenas yang namanya kemudian mendadak tenar akibat video aksi menghukum pelanggar lalu lintas yang kemudian menjadi booming bak artis sinetron. Melihat dari beberapa videonya, beliau tak segan menghakimi pelanggar lalu lintas dengan mobil kesayangannnya yang disebut ichiro. Dengan mobil Suzuki Vitara yang disulapnya menjadi kendaraan off road, Andi mengarahkan mobil yang bempernya sudah dimodif tersebut sehingga lebih kokoh, kuat, dan tahan benturan ini memberi pelajaran kepada para pelanggar lalu lintas di ibukota. Beliau tak segan menabrak pelanggar meskipun tak ada bukti kuat korban ichiro selain tayangan video tersebut. Ada aksi ada reaksi, tindakannya bersama ichiro merupakan reaksi dari aksi pelanggaran yang dilakukan pengendara lain.                   
Sangat disayangkan jika aksi ichiro ini dipandang dari sudut negatif. Sebut saja aksi saat ichiro ditabrakkan pada minibus yang melawan arus. Apakah tindakan Andi Wenas salah ? Dari segi kepentingan publik beliau sebagai warga negara juga memiliki hak dalam menggunakan jalan dengan aman dan nyaman.                                                                               
Aksi minibus yang menghalangi jalan sama dengan tidak menghormati hak pengguna jalan lain, apalagi banyak sekali sopir angkutan besar sering kali ngawur dan tidak mengalah dengan kendaraan kecil bahkan terkesan meremehkan karena kendaraan yang dipakainya besar dan menganggap pasti kendaraan kecil mengalah. Aksi Wenas membuka selubung atas kenyataan yang terjadi dengan apa yang terjadi pada jalanan sehari-hari. Melanggar lalu lintas menjadi terbiasa jika tidak ada yang memperingatkan, mungkin ini yang mendasari andi wenas melakukan aksi demikian.                                                                                                 
Banyak kalangan ikut berkomentar terkait aksi Andi Ichiro ini, ada yang mendukung ada juga yang menganggap ini sebagai pelanggaran hukum. Salah satu yang menentang aksi ini adalah Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Center (JDDC). Ia berpendapat bahwa kondisi dan aksi yang dilakukan Ichiro adalah situasi tidak bisa dikontrol dan bisa dikatakan merupakan sifat yang tidak lumrah yang terjadi di jalanan umum. Kemungkinan terburuknya, aksi ini bisa membahayakan orang lain karena menindak pengguna jalan yang salah bukanlah tugas seorang pengendara.                                                   
Sementara itu, Sosiolog Musni Umar mengatakan, munculnya Ichiro merupakan fenomena yang menjadi pukulan halus kepada aparat penegak hukum untuk bisa lebih menertibkan lalu lintas. Menurut Musni, aksi Ichiro juga bisa disebut sebagai upaya menyadarkan masyarakat bahwa melanggar lalu lintas bisa membahayakan diri pengendara itu sendiri. Ia pun mengaku kadang tak sungkan membunyikan klakson jika melihat ada pengendara melakukan pelanggaran. Masih banyak lagi kalangan yang ikut berpendapat aksi tersebut, baik mendukung ataupun menentang. terlepas dari itu semua, hal ini haruslah menjadi pelajaran bagi semua pihak tentang kesadaran penegakan hukum, baik masyarakat ataupun aparat kepolisian. Setiap pelanggaran harus mendapatkan hukuman yang sesuai dan berdasarkan peraturan dan undang-undang yang berlaku.             
Wenas adalah satu dari sekian banyak orang yang berusaha membantu memberikan kesadaran pada pengguna jalan yang melanggar aturan meskipun tak bisa dipungkiri tindakannya yang terlalu berlebihan meskipun tujuannya baik. Fnc pun merasa aksi wenas bukan kesalahannya mutlak semata.                                                                                                            
Jika bukan kita sesama pengguna jalan yang mengingatkan siapa lagi ? Polisi ? Petugas polisi lalu lintas tak bisa memantau on time keadaan disuruh jalanan di Indonesia, perlunya peran serta kita sesama pengguna jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar