Andi Wenas yang namanya
kemudian mendadak tenar akibat video aksi menghukum pelanggar lalu lintas yang
kemudian menjadi booming bak artis
sinetron. Melihat dari beberapa videonya, beliau tak segan menghakimi pelanggar
lalu lintas dengan mobil kesayangannnya yang disebut ichiro. Dengan mobil Suzuki Vitara yang disulapnya menjadi
kendaraan off road, Andi mengarahkan
mobil yang bempernya sudah dimodif tersebut sehingga lebih kokoh, kuat, dan
tahan benturan ini memberi pelajaran kepada para pelanggar lalu lintas di
ibukota. Beliau tak segan menabrak
pelanggar meskipun tak ada bukti kuat korban ichiro selain tayangan video tersebut. Ada aksi ada reaksi,
tindakannya bersama ichiro merupakan reaksi dari aksi pelanggaran yang
dilakukan pengendara lain.
Sangat disayangkan jika aksi ichiro
ini dipandang dari sudut negatif. Sebut saja aksi saat ichiro ditabrakkan pada
minibus yang melawan arus. Apakah tindakan Andi Wenas salah ? Dari segi
kepentingan publik beliau sebagai warga negara juga memiliki hak dalam menggunakan
jalan dengan aman dan nyaman.
Aksi minibus
yang menghalangi jalan sama dengan tidak menghormati hak pengguna jalan lain,
apalagi banyak sekali sopir angkutan besar sering kali ngawur dan tidak
mengalah dengan kendaraan kecil bahkan terkesan meremehkan karena kendaraan
yang dipakainya besar dan menganggap pasti kendaraan kecil mengalah. Aksi Wenas
membuka selubung atas kenyataan yang terjadi dengan apa yang terjadi pada
jalanan sehari-hari. Melanggar lalu lintas menjadi terbiasa jika tidak ada yang
memperingatkan, mungkin ini yang mendasari andi wenas melakukan aksi demikian.
Banyak
kalangan ikut berkomentar terkait aksi Andi Ichiro ini, ada yang mendukung ada
juga yang menganggap ini sebagai pelanggaran hukum. Salah satu yang menentang
aksi ini adalah Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving
Center (JDDC). Ia berpendapat bahwa kondisi dan aksi yang dilakukan Ichiro
adalah situasi tidak bisa dikontrol dan bisa dikatakan merupakan sifat yang
tidak lumrah yang terjadi di jalanan umum. Kemungkinan terburuknya, aksi ini
bisa membahayakan orang lain karena menindak pengguna jalan yang salah bukanlah
tugas seorang pengendara.
Sementara itu, Sosiolog Musni Umar
mengatakan, munculnya Ichiro merupakan fenomena yang menjadi pukulan halus
kepada aparat penegak hukum untuk bisa lebih menertibkan lalu lintas. Menurut
Musni, aksi Ichiro juga bisa disebut sebagai upaya menyadarkan masyarakat bahwa
melanggar lalu lintas bisa membahayakan diri pengendara itu sendiri. Ia pun
mengaku kadang tak sungkan membunyikan klakson jika melihat ada pengendara
melakukan pelanggaran. Masih
banyak lagi kalangan yang ikut berpendapat aksi tersebut, baik mendukung
ataupun menentang. terlepas dari itu semua, hal ini haruslah menjadi pelajaran
bagi semua pihak tentang kesadaran penegakan hukum, baik masyarakat ataupun
aparat kepolisian. Setiap pelanggaran harus mendapatkan hukuman yang sesuai dan
berdasarkan peraturan dan undang-undang yang berlaku.
Wenas
adalah satu dari sekian banyak orang yang berusaha membantu memberikan
kesadaran pada pengguna jalan yang melanggar aturan meskipun tak bisa
dipungkiri tindakannya yang terlalu berlebihan meskipun tujuannya baik. Fnc pun
merasa aksi wenas bukan kesalahannya mutlak semata.
Jika
bukan kita sesama pengguna jalan yang mengingatkan siapa lagi ? Polisi ?
Petugas polisi lalu lintas tak bisa memantau on time keadaan disuruh jalanan di Indonesia, perlunya peran serta
kita sesama pengguna jalan.